Minggu, 26 Juni 2016

Jika kelak aku menikah dengan yang sebaya, aku ingin melukis kisah semisal 'Ali dan Fathimatuzzahra. Keduanya, saling mencintai karena iman. Fathimah yang sabarwalau suami pulang tanpa membawa harta, juga Ali yang tetap bertanggung jawab meski harus bekerja sebagai kuli dengan gaji segenggam kurma. Ah, indahnya...
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih muda, aku ingin memahat cerita seperti Usman bin 'Affan dan Naila as-Syam. Keduanya, tetap menyayangi walau yang satu telah beruban dan yang satu lagi berumur belasan. Duhai, sebaik-baik guru adalah suami yang shaleh. Maka Naila belajar pada Usman yang lebih dewasa. Belajar untuk semakin menshalehahkan diri, hingga, ia merelakan jemarinya putus karena menahan pedang musuh yang hendak membunuh suaminya. Dan seba'da Usman wafat, konon, Naila mencakar wajah cantiknya agar tak ada seorang pun yang mau melamarnya. Ia amat mencintai kekasih jiwanya.
.
Jika kelak aku menikah dengan yang lebih tua, aku ingin mengukir cinta laksana Rasulillah dan Khadijah al-Kubra. Keduanya, saling mengasihi sekaligus menebar cinta pada sesama. Khadijah adalah sebaik-baik istri, ia senantiasa menenangkan seperti seorang ibu, ia selalu menemani seolah sahabat sejati, ia mengorbankan harta benda demi dakwah sang suami. Dan sungguh hanya Khadijah-lah, cinta pertama yang tak pernah dimadu oleh sang Rasul. 

Di atas pernikahan, umur tak lagi jadi soalan. Sebab menikah adalah proses pendewasaan diri, proses perbaikan diri, dan proses menshalehakan diri. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai guru, kita hormat padanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai sahabat, kita tertawa bersamanya. Sesekali, jadikan pasangan kita sebagai adik, kita manjakan ia sepenuhnya.


Sekali lagi setelah menikah, yang terpenting bukan tentang usia berapa, tapi tentang perjalanan seperti apa. Dan pastikan, perjalanan rumah tangga kita seperti pelangi, banyak warna yang menaungi
.

Penggalan syair diatas merupakan syair yang aku kutip dari sosial media. Hmmm entah kenapa aku sangat menyukai kutipan ini. Rasanya kutipan ini seperti doa yang ingin aku panjatkan. Mungkin bukan hanya doa dan harapanku tapi juga banyak doa perempuan lainnya.

Pikiran ini melayang jauh dan berkata 'tapi apa bisa?'. Pikiran dan hati ini begitu memiliki banyak impian. Ukiran impian yang selalu aku panjatkan dalam hati disetiap hembusan nafas ini. Dan dari semua mimpi besar itu...

Sungguh, kelak aku yakin dan dengan sangat yakin aku hanya ingin hidup secara sederhana dengan menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anakku kelak.



Allahumma, wa'aqdam hadhih al'ahlam walamal 'iilayk Aamiin yaa Rabb...