Wednesday, 16 October 2019

Surat Cinta Untuk Sahabat


Dear Ika Octariyani Safitri, selamat memasuki usia seperempat abad lebih satu tahun.
Selamat terus bertumbuh menjadi perempuan yang cantik dan bijaksana dalam segala hal.
Terus lah menjadi sosok yang lembut hati nya, menginspirasi dan membagikan manfaat bagi orang-orang sekitar.
Terus lah menjaga semangat dalam mengejar mimpi-mimpi mu. Lelah, pasti. Tapi semoga menjadi lillah yaa mbak.



Setelah hari-hari ini, dengan masa depan yang kadang semakin penuh dengan pertanyaan. 
Semoga harapan itu tetap selalu terjaga dengan niat-niat yang tulus dari hati.


Selalu yakin lah, bahwa kebaikan akan selalu menyertai setiap niat tulus dan langkah mu.
Selalu yakin lah bahwa rasa syukur akan terus memberi kenikmatan yang luar biasa
Selalu yakin lah bahwa fase menerima sepenuhnya tentang apa yang sudah digariskan Allah membuat penerimaan itu menuju rasa yakin.

Yang ini, abis foto langsung minta nomer wa ya kan mbak bapaknya wkwk

Semoga apa-apa yang menjadi asa mu terengkuh, apa-apa yang menjadi mimpi mu kelak menjadi nyata. Terus lah memeluk asa dan mimpi itu.
Barakallahu fii umrik mbak sayang. Semoga keberkahanNya selalu bersamamu


Terakhir, terima kasih selama ini selalu menjadi sahabat yang baik
Terima kasih karena selama ini selalu menguatkan dan mendukung setiap langkah yang berat dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.
Terima kasih selalu menasehati dan mengingatkan dengan tulus

Maaf belum bisa menjadi sahabat yang baik, tapi percaya lah mbak doa selalu terhantar walaupun jarak kita selalu memisahkan. Allah akan selalu bersama orang baik seperti mu

Aku menyayangimu karena Allah mbak :”) hehehe. Jaga kesehatan sesibuk apapun yaaa
________________________________________________________________________________

Nah, ini yang ini bonus tambahan yaaaaa hahaha. Love u to the moon and back mbak 💙

"Hmmm sepertinya aku ingin nambah es krim lagi"

ngapain mbak? wkwk

"Jijik tau aku nengoknyaaa"

Saturday, 20 July 2019

Dimana kamu ?

Kenapa rasanya sulit sekali menggunakan akal saat merindu?
Melayang pikiran ini menembus akal sehat
Lalu tidak lupa aku selalu berkata pada diriku sendiri untuk selalu waras
Sesempit apapun itu
Selapang apapun itu
Harus...

Aku tahu
Aku semakin sadar
Bahwa kebebasan memilih pun semua tertuju pada hati dan tanganmu
Mencoba membuat semua mengerti dengan pendirian yang terlihat semakin menunjukkan keinginannya
Terkuasa
Dikuasai
Menguasai

Dimana kamu?
Dimana kamu, ego.

Wednesday, 30 January 2019

Terkait

Pagi ini dalam perjalanan pulang dari kantor, ya seperti biasa aku menggunakan bus dengan ayu teman satu kosan ku. Tapi kami tidak dapat tempat duduk lagi dan terpisah dari satu sisi ke sisi lainnya. Lalu dalam perjalanan itu aku hanya bisa melihat sepanjang jalan dan situasi yang aku lalui pagi ini. Rasanya sedih, sesak, terfikirkan ku lagi dan lagi. Apa lagi sekarang yang ku rasakan. 
Tanpa sadar mata ini mulai berkaca-kaca dan berkata dalam hati "ya Allah apa aku harus menyerah saja? Aku harus bagaimana?"

Aku mulai ingin menyerah, pesimis se pesimisnya. 

Bukan, bukan pesimis akannya. Tapi tentang diri ini sendiri. Aku berpikir mungkin memang, aku ini bukan yang terbaik untuknya sehingga setiap kali diri ini berusaha meyakinkannya, tapi diri itu selalu ragu. Aku sadar sesadarnya sekarang. Sepertinya memang bukan aku. Hhhh tanpa sadar sekarang air mata ini pun pecah. :') 

Lalu logika ku pun mengalahkan hati ku sekarang. Aku berusaha masuk sebagai dirinya. Mengambil persepsi sejadi-jadinya dari sudut pandangku. Teringatku dengan percakapan singkat dengan seseorang bahwa kebanyakan laki-laki akan mengandalkan logika daripada perasaan. Lalu aku berusaha tetap masuk ke dalam logika itu. Oh iya, seharusnya kelak dia harusnya mendapatkan pasangan yang lebih muda dan cantik dari aku, lalu seharusnya dia juga kelak harus mendapatkan dari keluarga yang jauh lebih lebiiihhh baik dariku, lalu seharusnya dan ini yang paling penting agama yang paling baik. Aku sadar aku tidak ada di bagian semua itu. 

Sakit memikirkannya? Tentu :) aku tidak ingin menampik rasa sesak ketika memikirkannya dan menuliskan ini. Tapi aku bisa apa? aku harus bagaimana? Mungkin memang tidak selamanya kita memiliki apa yang kita inginkan bahkan yang kita butuhkan sekalipun :) Apalagi selalu dalam penolakan :)

Sampai di titik ingatan itu. Aku berharap kepada Allah untuk mengembalikan diriku yang dulu. Ambisius yang se ambisiusnya. 

Lalu dalam perjalanan menuju pulang, tanpa sengaja aku melihat seorang ibu dengan anaknya yang sedang berjalan menuju ke gerbang sekolah. Ibu itu mengantar anaknya, lalu aku melihat anak itu mencium tangan ibunya dan ibunya mencium pipi anaknya. Lalu si anak pun melambaikan tangan kepada ibunya dan masuk ke dalam sekolah. Rasanya indah sekali.

Seketika mata yang tadinya berkaca-kaca pun berubah menjadi tangis.
Aku rindu Ibuku dan mengatakan mungkin keinginanku untuk menjadi seorang ibu pun mungkin tidak akan terwujud. :) Aku bisa apa :)

Aku tidak ingin memaksakan pemikiran dan perasaan yang aku punya lagi
Menyerah? Tidak :)
Bahkan tidak pernah bergeming :)
Aku hanya bingung :)
Aku akan berdoa kelak kamu mendapatkan yang terbaik
Mungkin memang bukan aku
Lalu apakah aku akan menghilang. Tidak :)

Aku akan tetap menunggu sampai aku tidak bisa lagi menunggu
Baik tidak dalam genggamanku
Atau tidak bernafas lagi
Mengenggam kenyataan yang aku punya sendiri lalu menjalaninya semua dengan sendirian.

hmmmm :)

Tolong bantah semua pemikiran semua tulisanku ini ketika dirimu membaca ini.
Itu pun jika berkenan :)
Jangan pernah lupa minum yaa :)




Monday, 31 December 2018

Image may contain: text

Resah

Semalam aku bermimpi
Tentangmu
Tapi aku tidak bisa melihatmu
Rasanya jauh

Semalam aku bermimpi
Tentangmu
Kamu menghilang
Pergi

Tidak ingin melihatku lagi
Tidak ingin berkutat lagi
Aku resah
Aku takut
Setiap kali seperti ini, ingin berlari rasanya
Menghilang
Lupa ingatan
Sesak

Kenapa?
Kenapa?

Aku rindu

Thursday, 13 December 2018

Jika memang tangis yang Kau beri selalu bisa membawaku selalu dekat kepadaMu, tak mengapa ya Rabb
Jika memang memendam dan menahan amarah menjadikan aku hamba yang selalu Engkau cintai, tak mengapa ya Rabb
Jika memang rasa sabar dari setiap ujian menjadikanku salah satu hamba yang selalu Kau cintai dan bisa membawaku ke surgaMu kelak. sungguh tak mengapa ya Rabb