Senin, 16 Mei 2016

Sang Pengingat

Terbangun dalam tidurku di pagi ini
Melakukan rutinitas seperti biasa sebelum berangkat ke kampus
Lalu terfikir olehku untuk browsing dan membaca buku, tujuaannya sih aku hanya ingin menumbuhkan semangat ini yang sebenarnya bisa saja redup pada setiap detiknya.

Lalu ketika aku membuka media sosial, aku melihat temanku mengeluh di media sosial itu, ya kurang lebih begitu
Lalu aku berusaha memberikan kata-kataku di kolom komentar yang aku harap bisa menumbuhkan semangatnya. Aku harap begitu.
Sejenak aku berfikir setelah aku memberikan kata-kata itu pada temanku.
Aku berfikir, apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersyukur itu? bukan kah hal yang lumrah jika manusia selalu mengeluh dengan berbagai macam persoalan? bukan kah hal yang lumrah walaupun tidak menampakkan tapi dalam pikirannya manusia sering mengeluh? (aku orang yang seperti ini)

Dalam perjalanan ke kampus hari ini aku berangkat seperti biasa dengan menggunakan angkutan kota (biasa disingkat angkot lah, biar agak lebih bagus aja ceritanya hahaha). 
lalu ada seorang ibu menaiki angkot yang sama denganku dan mempunyai dua anak, anak yang pertama adalah anak perempuan, dan kedua adalah anak laki-laki yang aku pikir sekilas terlihat normal. Hmmmm kadang aku suka sekali bersifat apatis akan sekelilingku ketika sudah menggunakan earphone ( yaaa,.., I think i can't life without my earphone for listen to the music).
Kemudian anak laki-laki dari ibu tersebut duduk tepat disebelahku. Ketika pandangan dan konsentrasiku sedang tidak berada di tempat itu, tiba-tiba anak laki-laki itu menarik headset yang aku gunakan. Sontak aku kaget
Tapi aku tidak marah sama sekali dan aku mengatakan 'jangan yaa, ga boleh gt. pantang' dengan senyum aku mengatakan hal itu padanya dengan harap dia mengerti dengan apa yang aku katakan padanya. Sejujurnya disaat itu air mata ku ingin turun ketika melihat mata anak itu. Namanya Fajar Togatorop (aku tau namanya karna ketika dia menarik headsetku aku rasa aku harus mengenalnya).
Spontan aku mengusap kepalanya dan bertanya kepada ibunya :
Umurnya berapa ibu?
6 tahun dek. 
disaat itu spontan aku mengatakan : jangan pernah dikasih makan coklat atau yang manis-manis ya bu, kalaupun mau minum susu, minum susu putih dan jangan minum susu coklat.
oh gitu ya dek. iya dek  dia memang sempat sakit, paru-parunya sakit, demam tinggi, sudah hampir meninggal dia waktu itu kalau ibu harus ingat dek. ibu rasa kalau ibu harus ingat waktu pertolongan dokter dan suster yang lama sudah tidak tertolong waktu itu. makanya ibu putuskan untuk 'mencuri' waktu itu dek. Ibu rasa kalo ga gitu udah ga ada lagi dia ini dek. 
pada saat yang bisa aku katakan hmm seperti itu ya bu, iya ya bu jangan lagi dikasih coklat dan makanan yang manis.
lalu ibu itu mengatakan, tapi giginya bakalan bagus lagi kok itu dek kalo masalah giginya yang rusak
lalu aku dengan tersenyum berusaha mengatakan bu, mengurangi makan coklat ataupun yang manis akan berusaha mengurangi sikap dia yang seperti ini dan buat lebih sehat badannya dia sambil tersenyum kepada anak itu yang selalu berusaha mengajak aku bercanda dengan menarik tanganku.
Aku bersyukur setelah lihat tanggapan aku itu ibu itu sepertinya paham dengan maksudku

Firman (anak itu) dengan umur 6 tahun dengan tubuh sekecil itu, sudah tidak bisa dikatakan lagi anak yang normal, dengan kondisi yang hiperaktif dengan menarik barang orang lain dengan kasar sudah tidak bisa dikatakan normal lagi. Apalagi setelah aku menoleh dan melihat wajah kecilnya yang semakin menampakkan kondisinya rasanya ingin sekali aku menangis, dan kondisinya yang seperti itu juga ada hal yang melatarbelakangi seperti yang dikatakan ibunya tadi.
Firman itu sungguh istimewa, ciptaan Allah yang yang paling istimewa dari kita manusia yang bisa dikatakan normal.

Firman Togatorop, anak kecil 6 tahun yang memiliki autisme yang bisa membuatku tersenyum di pagi hari ku ini, membuatku semangat akan hariku ini, membuat ku semakin tau arti bersyukur, dan sosok malaikat kecil yang mengingatkanku untuk selalu mengingat sang khalik dengan tau bersyukur. Terima kasih firman :) walaupun pertemuan yang singkat tapi rasanya dirimu sudah membuat hati ini luluh hehe. siapa bilang jatuh cinta harus membutuhkan waktu yang lama, buktinya si firman ini udah membuat aku jatuh cinta padanya wkwkwk (apasihhhh -___- abaikan)

Baru tadi pagi aku berusaha memberikan nasehat dan memberikan kata-kata penyemangat untuk temanku. Tapi seketika itu juga Allah memberikan aku teguran dan jawaban yang diluar ekspektasi intuisi ini. 
Ya memang, Sang Pengingat itu selalu punya cara yang tidak terprediksi untuk menegur kita sebagai manusia untuk tau bersyukur dengan kehidupan yang kita punya saat ini.
Terkadang kita manusia terlalu fokus dengan apa yang dia inginkan, sehingga lupa dengan apa yang telah dimiliki. Semoga ini bisa jadi pelajaran yang akan terus menerus aku implementasikan dalam kehidupanku kelak, sehingga aku bukan menjadi orang yang kufur nikmat dengan apa yang telah diberikanNya selama ini padaku.

Terima kasih Sang Pengingatku
Terima kasih untuk caraMu yang indah dalam menyapaku setiap harinya
Terima kasih selalu membuatku jatuh cinta padaMu dengan cara yang lembut


Medan, 16 Mei 2016 
Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
(tulisan di tengah penelitian yang ga kelar-kelar -_____-) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar