Rabu, 17 Agustus 2016

MERDEKA (katanya)

#Refleksi

Merdeka, sudah merasa merdeka belum ya?
Saya merasa belum. Saya bahkan merasa belum merdeka diri sendiri secara perasaan (okay, yg ini abaikan-__-)

Di hari ini aku memutuskan untuk merenungkan apa arti merdeka sesungguhnya dari sudut pandangku?

Hidup di negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi selama 22 tahun, entah kenapa kok aku malah merasa demokrasi kita salah kaprah yaa. Randomly, sejenak aku berpikir dengan adanya guru yang menghukum muridnya lalu orangtua murid itu tidak terima dengan perlakuan muridnya lantas orangtua murid tersebut melaporkan hal tersebut ke polisi, bahkan melakukan kekerasan. Yang menjadi pertanyaan apa harus seperti itu? Bukan kah ketika orang tua sudah mempercayakan anaknya untuk sekolah formal atau umum dia memberikan kepercayaan kepada yang membimbing anaknya tersebut? Coba renungkan hal ini. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar dengan hal ini. Mari sang pendidik dan orang tua merenungkan kedua hal ini dari setiap perspektif yang berbeda. Kalo saya, hanya berpikir ah ini mungkin hanya pergeseran nilai dengan semakin majunya perkembangan jaman dan teknologi, katanya.

Lalu, ada lagi yang mengagetkan salah satu menteri hasil reshufle yang selidik punya selidik berkewanegraan negara adidaya. Sumpah hal ini yang sungguh menggelitik-___- halooooo itu ga salah ya informasinya? coba lah di cek lagi, siapa tau salah, siapa tau ada yang sirik bapak jadi menteri makanya bapak dibilang warga negara lain pak. Coba dicek lagi kebenarannya. Eh tapi sejenak berpikir juga, apa iya salah ya informasinya? Hmmm ga mungkin juga sih, apalagi dengan semakin canggihnya teknologi untuk mendapatkan informasi dan segala media di Indonesia yang semakin makin apa iya bisa salah, ah tapi coba lah dicek lagi untuk memastikan, siapa tau salah.

Lalu menteri pendidikan yang baru mencanangkan program fullday school. Ini lebih super heran tingkat dewa. Hadeeh, saya aja yang dulu sekolah masuk setengah 7 dan pulang setengah 3 sore udah jenuh pak. Bapak tau kah kalau daya konsentrasi manusia hanya bisa berada pada 45-50 menit pertama? saya rasa bapak sih gatau. Lalu saya berpikir dan termenung kembali oh mungkin sang menteri ingin memajukan negara kita tercinta dan tersayang ini lewat pendidikan, oh mungkin begitu sepertinya. Eh, lalu saya berpikir random lagi ini yang sangat luar biasa random "kalo saya punya anak nanti apakah mungkin saya membiarkan untuk berada di sekolah begitu lama?" lalu waktu untuk saya orangtuanya bagaimana? apa bisa? bukan kah hidupnya bukan hanya sebatas formal, tapi informal kan juga. Apa bisa kelak saya dan suami bisa mengajarkan tentang hakikat hidup dan agama yang notabennya buat saya paling penting itu anak saya memiliki waktu untuk itu, sempat terpikir untuk hal itu menjadi momok yang menakutkan. Ah tapi mungkin ada hal positif lainnya dengan tujuan menteri pendidikan membuat program itu, ah tapi kalau kita berpikir balik apakah dia memiliki anak yang masih sekolah formal? atau jangan-jangan anaknya sekolah di negeri orang semua ya pak?-__-

Ditambah lagi dengan sekarang negara kita yang semakin sensitif dengan perbedaan. Ini lagi yang sangat bisa membuat saya berpikir keras, semuanya menjadi intoleran. Semua seperti baru liat semua perbedaan, padahal notabennya sudah dari nenek moyang dulu kita penuh dengan perbedaan, lalu kenapa rasanya ibaratnya seperti senggol sedikit bacok ya? Hmmm

Ah, yasudahlah ini hanya sekedar tulisan, ini hanya sekedar refleksi dari diriku sendiri dan untuk diriku sendiri. Serta untuk bertanya “Apa yang sudah aku lakukan untuk negaraku?”... Jika pertanyaan itu muncul dalam benakku, rasanya aku sungguh masih kosong. Teringatku jika aku mengeluh tentang negaraku, dan teringatku jika banyak orang mengeluh tentang negaraku ini(yang notabennya negara mereka juga) bukan kah kita harusnya bersyukur dengan segala hal yang kita punya sekarang, kita masih bisa hidup di negara yang merdeka(katanya) tapi setidaknya kita masih bisa tidur dengan nyaman, dan segalanya ‘cukup’, coba kita bandingkan dengan negara yang sampe sekarang masih penuh dengan baku tembak, yang setiap malam mereka tidak bisa tidur dengan tenang karna dihantui perasaan takut apabila rumah mereka dilempar rudal atau tiba” terjadi penembakan, atau di negara lain yang untuk makan dan mendapatkan air bersih saja susah.

Hhhh.... kadang aku berpikir, sudahlah nov. Sudah selesai berpikir kerasnya. Ya tulisan ini hanya untuk refleksi ku, refleksi untuk diriku sendiri. Yang aku tau setiap pelajaran dalam hidup adalah pelajaran yang kelak jawaban dari hakikat hidupku. Entah apapun dibalik itu semua. Yang aku tau, aku ingin kelak anak-anakku mengerti bahwa tentang semuanya.
Dan yang aku tau, aku bangga menjadi Indonesia.

Selamat merdeka(katanya) yang ke 71 tahun negaraku. Dirgahayu Republik Indonesia.


Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar